Lintas Sumut | Asahan –
Sri Sultan Asahan ke XII dr. Kamal Abraham Abdul Djalil Rahmadsyah, SP, Anggota DPR RI Johar Arifin dan Anggota DPRD Asahan dari Partai Gerindra Febriansyah Saragih, SH dampingi Kelompok Tani Sri Mrrsing Asahan Tanam padi perdana di Desa Sei Tempurung Kecamatan Sei Kepayang Barat Kabupaten Asahan, Selasa (10/11).
Giat tanam padi itu melibatkan sekira lima puluh anggota koptan dan puluhan warga setempat, hadir juga dalan acara itu pegawai Dinas Pertanian dan Tetahanan Pangan Kabupaten Asahan dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sumut, Irwansyah Nasution (Ibey) dan Calon Bupati Asahan 2020 Dr. Nurhajizah Marpaung SH, MH.
Sri Sultan Asahan dalam sambutannya menyampaikan penanaman Padi perdana di desa Sei Tempurung tak terlepas dari dukungan Kabaharkam Polri, Komjen Pol Drs. Agus Andrianto, SH, MH.
Selain itu, pegembalian pengelolaan tanah kepada masyarakat dan kelompok tani melalui tanah wilayat Adat melayu Asahan di Sei Tempurung merupakan satu kepedulian Sultan Asahan mewujudkan program pemerintah salam swasembada pangan di Indonesia yang abadi.
Sementara itu, Johar Arifin berharap kedepan Asahan dapat terus menciptakan ketahanan pangan yang mumpuni melalui Padi, Daging dan Ikan.
Hal senada juga dikatakan Ramadhan selaku Ketua Koptan Sri Mersing. Menurutnya luas sawah yang dikelola seluas 10 hektate dari 3520 hektare dari luas keseluruhan rencana yang akan Koptan kelola di kawasan Desa Sei Tempurung yang juga masuk dalam usulan pengalihan status tanah terbengkalai menuju Program Tora.

“Penanaman padi perdana ini juga mendapat dukungan/apresiasi dari sejumlah anggota DPRD Asahan dan DPR -RI”, kata Ramadhan.
Tampak puluhan kerabat Sultan Asahan dan Puak Melayu memakai Pakaian Adat Melayu saat mendukung giat Koptan di lokasi lahan dan di kediaman Febriansyah Saragih SH.
Jefri (45) yang mengaku masyarakat peduli pagan dan lahan terlantar di Asahan saat menyampaikan keluhannya kepada Awak Media mengaku program Tora dan pengelolaan lahan pertanian di Sei Tempurung sempat mengalami kendala dan sengketa lebih awal penguasaan fisik lahan seluas 3250 hektare.
“Awalnya ada kendala, ada oknum yang tidak mendukung program pangan dan akhirnya kita sudah tau bahwa oknum tersebut merupakan suruhan pihak lain yang tak mengiginkan progran koptan Sri Mersing berjalan baik”, ungkap Jefri.
Ironisnya Kepala Desa Tak Hadir dalam acara itu saat HP nya aktif namun tak dijawab saat awak media menghubunginya berulang ulang.
Pantauan awak media mobil rombongan Sultan dan Anggota DPR- RI sempat terbenam di gerbang maduk lahan. (ZN)







Komentar