Lintas Sumut | Medan,
Calon peserta didik baru tahun 2020, Martin Marcellino, hanya bisa bersedih setelah Panitia Penerima Peserta Didik Baru (PPDB) Sumut tahun 2020, memberitahu kalau dirinya tidak lulus masuk ke SMK 4 Medan. Ketidak lulusan Martin dikarenakan ketidaktauan dari orang tuan Martin dalam menginput data.
Calon peserta didik baru harus menginput semua nilai setiap mata pelajaran yang di ajarkan sesuai yang ada dirapot. Namun orang tuan Martin, hanya menginput satu nilai saja. Contohnya, PKN kelas 1 itu saja yang diinput, tidak semua yang dirapot dimasukkan. Padahal semua mata ujian yang diujikan harus masuk semua mulai dari semester I – V. Karena pada Penerimaan Peserta Didik Baru 2020 ini nilai UN tidak ada yang ada hanya nilai rapot.
Akibat kesalahan input itu Martin gagal masuk SMKN 4 Medan, padahal nilainya tinggi yakni 86,67.
Ironisnya siswa yang bernama Muhammad Dio Al Fahri dengan nilai 79,30 dengan jurusan yang sama Teknik Kenderaan Ringan (Otomotif) lulus. Inilah yang dikomplain Mardo Munthe orangtua yang mewakili Martin ke Dinas Pendidikan Sumut, Jumat (12/6).
Selaian Martin, Rafly Nugeraha Tamar juga merasakan hal yang sama.
” Kenapa nilai anak saya 86,64 tak lulus di SMA 7 Medan, sedangkan nilai terendah 85,06 lulus,” kata Yusuf ayah Rafly dihadapan orangtua lainnya dan Sekretaris PPDB Saut Aritonang di lantai 2 Disdiksu Jalan Cik Ditiro Medan.
Mendengar keluhan itu, Sekretaris PPDB Saut Aritonang segera minta tim verifikator Disdiksu mencari keselahannya melalui whatsApp. Tak berapa lama Saut pun mendapatkan jawabnya
Ternyata orangtua Martin dan Rafly salah meng input data sehingga mesin yang memproses data tak dapat bekerja maksimal karena kurangnya data yang masuk terutama dinilai rapot. Nilai yang keluar memang tinggi, tapi setelah diproses ternyata tak sempurna.Berbeda dengan milik Muhammad Dio Al Fahri nilai pendaftaran rendah cuma 79,30 namun datanya sempurna. sehingga mesin mudah mengolahnya.”Meski mesin menyebutkan pendaftaran sukses dengan tanda centang, jangan didiamkan begitu saja. Harus ada upaya dari orangtua untuk mengupdate kembali mana yang kurang,” saran Saut.
Ketika ditanya solusi Saut mengatakan, kalau SMA masih bisa menempuh jalur zonasi, kalau SMKN ya tunggulah tahun depan. ” Kalau tidak, sekolah swasta,” kata Saut.









Komentar