Lintas Sumut | Sumut – Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo memastikan virus African Swine Fever (ASF) hanya menyerang hewan babi di Sumatera Utara. Jumlah babi yang mati di Sumut tersebar di 21 Kabupaten/Kota. dianya juga menegaskan peternakan babi selain di Sumut aman. Meski demikian, tren kematian babi di Sumut semakin menurun.
Hingga 15 Februari 2020 tercatat ada 48.000 babi mati mendadak di Sumut. Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi, mengajak seluruh elemen masyarakat bergandengan tangan mencari solusi permasalahan virus ASF yang menyerang ribuan ternak babi.
“Masalah flu babi hanya ada di Sumut. Trennya menurun, dan kita berharap jika sterilisasinya sudah dilakukan, maka intervensi menghadirkan ternak lebih baik dengan manajemen yang tertata akan memulihkan perekonomian masyarakat,” terangnya.
Pemerintah Provinsi Sumut sedang mencari langkah yang tepat sesuai aturan yang berlaku dan keadaan masyarakat, khususnya peternak babi yang mengalami kerugian akibat wabah virus ini.
Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi juga sudah melakukan diskusi bersama dengan Komunitas Konsumen Daging Babi Indonesia yang difasilitasi DPRD Sumut di Jalan Imam Bonjol beberapa waktu lalu. Diskusi turut dihadiri Kapolda Sumut, Irjen Pol Martuani Sormin, Kajati Sumut, Amir Yanto, Ketua DPRD Sumut, Baskami Ginting, Anggota Fraksi PDIP, Syahrul Effendi, Ketua Komunitas Konsumen Daging Babi Indonesia, Muniati Tobing, beserta anggota.
Dalam diskusi, Edy menjawab semua polemik tentang babi yang menjadi tuntutan masyarakat. Edy juga menegaskan isu pemusnahan seluruh ternak babi itu tidak benar. Sejak tanggal 25 September 2019, banyak bangkai babi itu terbuang di jalan dan sungai di sejumlah daerah di Sumut.
Kapolda Sumut, Irjen Pol Martuani Sormin Siregar, meminta masyarakat untuk menghentikan polemik babi tersebut. Ia mencurigai ada oknum yang memanfaatkan suasana untuk membuat Kamtibmas di Sumut tidak kondusif.
“Kalau ada yang merasa tidak puas mari berdiskusi atau dengan surat, sampaikan solusinya. Kita ingin membangun masyarakat yang bermartabat dan sejahtera,” sebutnya.
Kejati Sumut, Amir Yanto, mengajak seluruh masyarakat untuk berkepala dingin dan bersabar mencari solusi mengatasi wabah ini, contohnya, mengubur yang sakit dan memisahkan yang sakit dengan yang sehat.
Sebelumnya, Senin, (10/2), pengusaha dan peternak babi di Sumatera Utara (Sumut) unjuk rasa di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumut, Jalan Imam Bonjol, Kota Medan. Pengusaha dan peternak berjumlah ribuan orang unjuk rasa menolak pemusnahan babi.
Para pengusaha dan peternak babi menilai, apabila Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) memusnahkan babi, berarti Pemprov Sumut juga menghilangkan budaya. Karena, bagi mereka babi adalah bagian penting dari budaya. (red)







Komentar