oleh

Anak Penjual Atap Nipah Jadi Komandan Detasemen Polisi Militer Ditanah Kelahiran Sendiri.

Danden POMAL TBA Kapten Laut (PM) Marwansyah Damanik

LINTAS SUMUT | TANJUNGBALAI

Perjuangan yang dilalui seorang Perwira yang menjabat Komandan Detasemen Polisi Militer Pangkalan TNI Angkatan Laut Tanjung Balai Asahan (Dandenpom Lanal TBA) bukan mudah, cukup banyak perjuangan yang harus dilalui dengan tabah dan bermental baja, berbagai terjangan dan cobaan yang begitu berat diatasi demi menggapai cita-cita.

Kisah ini diceritakan Dandenpom Lanal TBA Kapten Laut (PM) Marwansyah Damanik yang ditemui diruang kerjanya di Jl. Mesjid no.1 Kota Tanjung Balai pada Selasa (22/9/2020) yang mengatakan semasa kecil sampai menjabat sebagai Komandan Polisi Militer ditanah kelahirannya kini, dirinya harus berjuang demi meraih cita-cita orang tua yang pernah tertunda.

Ia mengaku, sewaktu kecil, dirinya tinggal bersama kedua orang tua di daerah Sijambi Batu III, sekarang Jalan Sudirman Kecamatan Datuk Bandar Kota Tanjung Balai, bersama abang, Kakak dan Adiknya yang berjumlah 11 orang bersaudara.

” Ayah bekerja sebagai buruh dipelabuhan Teluk Nibung atau PT. Dewata Mulya Raya, sedangkan sang ibunya sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT), namun tetap membantu menambah penghasilan sang suami demi kebutuhan keluarga dengan cara bertani / menanam padi, mencari daun nipah ke hutan untuk dijadikan usaha kerajinan tambahan buat atap rumah”, Ucapnya.

Beberapa Foto Danden POMAL TBA Kapten Laut (PM) Marwansyah Damanik

Saat duduk dibangku Sekolah Dasar (SD) Sijambi batu IV, dirinya berjalan kaki dengan jarak tempuh 1 kilometer dan uang jajan sebesar Rp 10,- ” kami keluarga susah dengan 11 orang bersaudara bang, jadi orang tua gak bisa ngasi banyak uang jajan kepada anaknya “, Ujarnya.

Lanjutnya, Untuk membantu sang ibu menambah penghasilan dirumah, dirinya harus ikut berperan aktif membantu orang tuanya ke sawah dan pergi ke hutan mencari daun Nipah yang harus ditempuh dengan cara menyeberangi sungai dan rawa berhadapan dengan bahaya binatang liar, namun itu tidak menjadi halangan buat dirinya.

” Kita harus berhadapan dengan Ular, Pacet, lintah dan kelabang/kaki seribu dihutan, semua ini dilakukan untuk demi kelangsungan hidup kami sekeluarga, karena saat itu anak laki-laki tinggal saya seorang, sedangkan abang sudah pada merantau “, Ungkap Marwan.

Pria berkalahiran Tahun 1973 ini menegaskan, setelah daun nipah diambil dari hutan, sang ibu merakit/menjadikannya atap nipah untuk dijual, terkadang tidak laku dijual dan dengan terpaksa harus dijual kepedagang atap nipah seharga Rp.25,-.

Anak ke 9 dari sebelas bersaudara itu menambahkan, dahulu jalan Alteri dan sekitar Kecamatan Datuk Bandar masih banyak hutan Nipah / Rumbiah dan sawah sehingga kicauan merdu burung disana bersahutan, menambah indahnya alam, namun sekarang tidak terdengar lagi suara-suara itu, Jelasnya.

Setelah tamat dari sekolah dasar (SD), dirinya melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) Sijambi sekarang tepatnya jalan Anwar Idris / Sei Dua dengan jaraknya cukup lumayan berkisar 2 Km dari rumah, itu ditempuh dengan berjalan kaki setiap harinya, serta harus membantu sang ibu untuk mengambil daun nipah, itu tetap dikerjakan diluar jam sekolah walau harus masuk kedalam hutan dengan medan rawa berlumpur.

Beberapa Foto Danden POMAL TBA Kapten Laut (PM) Marwansyah Damanik

” Alhamdulillah, Allah masih melindungi saya sehingga tidak ada binatang berbisa yang menggigitnya, namun kalau binatang pacet jangan ditanya, pastinya gemuk-gemuk karena menghisap darah di badan saya “.

Setelah menamatkan Sekolah Menengah Pertama, dirinya melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) Budi Darma Jalan Muslim, sekarang Jalan Fanili tepatnya depan Terminal Bus Rajawali dan itu tak jauh dari rumahnya.

Cita-cita dan keinginan yang kuat harus didasari dari diri sendiri, sehingga saat menginjak Dewasa, dirinya yang hobby olah raga Volley dan sepak Bola memiliki persatuan dengan nama PSTS Junior Tanjung Balai di Stadion Asahan Sakti.

Tahun 1992 tamat dari SMA, dirinya merantau ke Ibu Kota Jakarta dan tinggal bersama Abangnya yang seorang TNI AD (Kopassus), untuk melanjutkan kuliah, namun putus ditengah jalan, hingga akhirnya hanya mengambil kursus komputer dan kursus mengetik di Jl. Gajahmada Jakarta Pusa

” Seenak-enaknya tinggal bersama abang lebih enak tinggal sama orang tua, ibarat pribahasa,Hujan Emas Dikampung Orang, Hujan Batu Dikampung Sendiri, biar enak ditempat orang namun lebih enak dikampung sendiri atau bersama orang tua “.

keinginan untuk mengejar cita-cita terus dilakukan dengan tetap bertaqwa kepada Tuhan, Berolah raga, serta Iringan doa kedua orang tua, sehingga pada Tahun 1994 abangnya yang menjadi Prajurit TNI AL mengajak dirinya untuk mengikuti pelamaran/penerimaan personil TNI.

” Ajakan abang tadi, dilarang oleh sang ibu karena takut kalau anaknya masuk prajurit tidak akan pulang / tetap tinggal diperantauan orang, sedangkan ayah menyetujuinya, karena dulu keinginan ayah adalah menjadi seorang Prajurit dan itu tidak direstui kedua orang tuanya (nenek-kakek nya-red) “, Kata Danden Pomal ini.

Diceritakannya, dengan niat dan tekad yang kuat, dirinya mencoba pelamaran Sekolah Calon Bintara (Secaba) di Lantamal I Belawan, dengan lulus mendapat rengking ke Tujuh dari 34 siswa dan diberangkat ke Malang untuk melakukan Pantohir berlanjut ke pendidikan dasar di Surabaya, hingga pembagian jurusan

” saya ditanya Brigjen I Gede Putu Sukarja mau ambil jurusan apa, mau jadi Marinir? dan menjawab siap menjadi Marinir, sehingga Brigjen I Gede Putu mengaku, memang kamu cocok jadi Marinir, maka dirinya menjalani pendidikan dasar, yang terlatak Dikawah Candra Dimuka Korps Marinir daerah Surabaya, persisnya jalan Gunung Sari jawa Timur selama tiga bulan “.

Pertama sekali ditugaskan, dirinya sebagai Komandan Regu (Danru) di Batalyon Provst Resimen Bantuan Tempur II Provost Bintara Muda Ton I KC sekarang disebut Yon Pommar daerah Surabaya.

Tahun 1997, dirinya berpangkat Serda dimutasi ke Jakarta di Dinas Provost Korps Marinir dan masih saya ingat betul bahwa, sebelum berlangsungnya unjuk rasa besar besaran, dirinya pernah diperintahkan pimpinan untuk mengawal Pak Harto, yang saat itu melakukan Panin Raya didaerah Cilengsi Bogor, sehingga saat pulang kita juga dihadang oleh Mahasiswa yang melakukan pembakaran ban dijalan.

” Mulai jalan Rawa Mangun, Cempaka Putih, Mahasiswa sudah berunjuk rasa dengan cara membakari ban ditengah jalan, sehingga kita harus menghindari itu semua dan berlangsung hanya 2-3 hari, namun kerusuhan besar terjadi pada juli 1998 yang seluruh Personil TNI AL keluar dari sarangnya untuk melakukan pengamanan dan saat itu juga, kita mengetahui bahwa lengsernya Pak Harto “.

Masih Bertugas di Dis Pommar berpangkat Bintara, dirinya banyak mengikuti kursus serta besic, pendidikan lain termasuk sekolah Provost dan itu adalah salah satu syarat untuk mengikuti pendidikan perwira dengan sebutan Pendidikan Sekolah Calon Perwira (Secapa).

Beberapa Foto Danden POMAL TBA Kapten Laut (PM) Marwansyah Damanik

” Saya berkenalan dengan seorang Putri dari Surabaya di Jakarta yang tak lain adalah istrinya sendiri bernama Suprapti, hingga dari hasil pernikahannya, Allah memberikan karunianya berupa 1 orang Putra dan 2 orang Putri “.

Tahun 2009 Saat berpangkat Sersan Mayor (Serma) dirinya mencoba Secapa dulunya dengan Sebutan Pendidikan Pembentukan Perwira Angkatan Laut (Dik Tuk Pa AL), Alhamdulillah sekali test dirinya lulus dan dilantik menjadi pangkat Lenan Dua (Letda) thn 2010 / perwira sesuai Keputusan Presiden (Kepres) dan yang melantik saat itu adalah Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal)

Untuk penugasan pertama berpangkat Perwira (Latda) dan masih di Korps Marinir, yaitu di Batalyon Provost Marinir II (Yon Prov Mar II) Jakarta, dengan jabatan Danton II Kompi C Batalyon Provost II Marinir, Resimen Bantuan Tempur (Menbanpur) Korps Marinir.

Pada Tahun 2012, dirinya dimutasi oleh pimpinan dengan jabatan baru sebagai Perwira Urusan Penyidik (Paur Idik) di Detasemen Provost Pasukan Marinir II (Den Prov Pas Mar II) yang terletak dijalan Kuini II No 6 Jakarta Pusat, Bebernya.

” Kita tetap mengikuti kursus dan sekolah lainnya, termasuk pada Tahun 2016 dirinya juga mengikuti seleksi Pendidikan Spesial Perwira Polisi Militer (Dik Spespa Pomal) dengan hasil lulus, itu di Kobang Dikal Surabaya mengikuti seleksi dan pendidikan selama 6 bulan “.

Saat itu atau tahun 2016 itu pula kata pria tinggi yang murah senyum ini, dirinya dipercayakan oleh pimpinan menduduki jabatan sebagai Komandan Detasemen Polisi Militer Pangkatan Angkatan Laut (Dan Denpom Lanal) Semeluh Aceh hingga menjabat 2 tahun dan pada Tahun 2018 pimpinan mempercayakan dirinya untuk menjabat sebagai Dan Denpom Lanal TBA, hingga sampai saat ini.

” Perjuangan dan jabatan yang diberikan pimpinan kepadanya bukan semudah membalikkan telapak tangan, harus tetap berusaha karena sebagai seorang prajurit yang diamanahkan, itu harus memenuhi unsur, termasuk Disiplin, Loyalitas dan Patuh kepada pimpinan serta tetap berdoa “.

Denpom Lanal TBA mempunyai Semboyan yaitu : Utamakan Tugas diatas segalanya. Taat pada Hukum dan Peraturan yang berdasarkan undang-undang, serta objektif dalam menyelesaikan masalah

Enggan berbuat cela, disiplin dan selalu yakin dengan kemampuan

Bersikap Arif santun dan bijaksana. Selalu menjadi suri tauladan serta rela berkorban demi Nusa dan Bangsa

Diakhir cerita Marwansyah Damanik berpesan kepada kaum Millenial,” Jangan terlena dengan Tehnologi, sehingga lupa dengan jati diri, Mari bangkitkan Performa kita dengan cara lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, Patuhlah pada kedua orang tua yang mengaliri doa dan restu, serta rajin berolahraga, semua ini demi mencapai cita-cita dan keinginan yang kita raih/impikan, Ucap Danden Pomal Lanal TBA Kapten Laut (PM) Marwansyah Damanik menutup.(Roby/Ambon)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

News Feed

loading...