Lintassumut.com, Tapteng | Upaya menjaga dan memulihkan ekosistem laut di kawasan Pantai Barat Sumatera Utara terus didorong PT Agincourt melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, kelompok konservasi dan dunia usaha yang digelar di Pantai Bosur. Kamis (10/09/2026)
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui pelatihan transplantasi terumbu karang yang melibatkan kelompok konservasi laut, Bank Sampah Yamantap (Yamantap BYS), Kelompok Konservasi Laut dan Nelayan (KKLN), UPTD Kawasan Konservasi Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara, serta dukungan PT Agincourt Resources (PTAR).
Kegiatan ini menjadi salah satu langkah awal untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam melakukan rehabilitasi ekosistem terumbu karang sekaligus mendorong kesadaran bersama terhadap pentingnya menjaga kelestarian laut.
Kepala UPTD Kawasan Konservasi Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara, Irfan Hulu, mengapresiasi keterlibatan masyarakat dalam kegiatan tersebut.
“Kami sangat berterima kasih atas inisiatif dari masyarakat untuk melaksanakan kegiatan pelatihan transplantasi terumbu karang ini,” ujar Irfan.
Menurut Irfan, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara telah menetapkan kawasan konservasi di Kabupaten Tapanuli Tengah dengan luas sekitar 84.000 hektare. Kawasan tersebut menjadi salah satu wilayah yang akan didorong untuk mendapatkan perlindungan serta pengelolaan ekosistem laut secara berkelanjutan.
Namun, Irfan mengakui bahwa pihaknya belum memiliki data penelitian secara spesifik mengenai tingkat kerusakan terumbu karang di kawasan tersebut.
“Untuk secara spesifik kita masih belum memiliki penelitian mengenai beberapa tingkat kerusakannya. UPTD ini juga baru dibentuk sekitar enam bulan,” katanya.
Sementara itu, Ketua KKLN Antonius Zebua menjelaskan bahwa rehabilitasi terumbu karang dapat dilakukan melalui berbagai metode transplantasi.
Salah satunya dengan mengambil bagian karang yang masih hidup dan memiliki potensi pertumbuhan, kemudian ditempatkan atau dicangkokkan pada media yang telah disiapkan.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan dengan sejumlah media transplantasi, di antaranya struktur berbentuk laba-laba serta media berbahan botol kaca dan besi.
Di sisi lain, Yamantap Dame Medrofa menilai kerusakan ekosistem bawah laut merupakan persoalan global yang dipengaruhi berbagai faktor, termasuk perubahan iklim.
“Secara general di dunia terjadi kerusakan ekosistem bawah laut. Pemutihan karang atau bleaching yang disebabkan krisis iklim, perubahan cuaca dan lain sebagainya terjadi di mana-mana,” ujarnya.
Menurutnya, rehabilitasi dan konservasi laut membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari masyarakat, pemerintah, perusahaan hingga kelompok swasta.
Ia menekankan, kondisi ekosistem laut tidak hanya dipengaruhi oleh aktivitas yang berlangsung di laut. Perilaku manusia di daratan, aktivitas industri yang tidak terkendali serta kegiatan pariwisata yang tidak menerapkan standar dan SOP yang baik juga dapat memberikan dampak terhadap keberlangsungan ekosistem laut.
“Kami mengajak siapa saja, baik individu, komunitas, pemerintah, swasta maupun negara, bersama-sama dengan berbagai cara, sekecil apa pun, untuk mencoba mengubah pola dan perilaku kita dalam hidup,” katanya.
Ia berharap pelatihan tersebut tidak berhenti pada kegiatan penanaman atau transplantasi semata, tetapi menjadi awal dari gerakan konservasi yang dilakukan secara berkelanjutan.
Sementara itu, Muhamad Kurniawan, Supervisor Biodiversity Management Agincourt Resources, mengatakan PTAR berharap kolaborasi yang telah terbangun dapat terus berlanjut setelah pelatihan selesai.
Menurutnya, pemantauan secara berkala menjadi bagian penting untuk mengetahui perkembangan dan tingkat keberhasilan terumbu karang yang telah ditransplantasikan.
“Kami berharap tidak hanya di pelatihan ini saja kita bisa berkolaborasi, tetapi untuk selanjutnya juga sampai ada penurunan atau pemantauan T0, T1, T2 seperti yang disampaikan trainer,” ujarnya.
Kurniawan menilai pemantauan tersebut penting untuk memastikan program rehabilitasi berjalan dengan baik sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan program konservasi berikutnya.
“Kita harus mendukung untuk berkolaborasi bersama pemerintah, swasta, dan kelompok masyarakat yang memang menginisiasi agenda ini. Keberlanjutannya tentu tergantung dari permintaan dan komitmen bersama,” pungkasnya.
Kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum memperkuat kolaborasi lintas pihak dalam menjaga ekosistem laut Tapanuli Tengah, sekaligus mendorong masyarakat agar semakin aktif dalam upaya konservasi dan pemulihan terumbu karang.
(ded)












Komentar