oleh

Ade Fahriza: Jangan Bawa Perpecahan Pusat ke Tanjungbalai, Pemuda Harus Bersatu

LINTAS SUMUT | TANJUNGBALAI

Ketua DPD KNPI Kota Tanjungbalai terpilih hasil Musyawarah Daerah (Musda) XVI, Ade Fahriza, mengajak seluruh organisasi kepemudaan (OKP) dan elemen pemuda di Kota Tanjungbalai untuk menjaga persatuan serta tidak membawa dinamika perbedaan kepengurusan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) di tingkat pusat ke daerah, Rabu (28/10/2026).

Dalam momentum Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober, Ade menegaskan bahwa semangat persatuan seharusnya menjadi landasan bagi seluruh pemuda untuk membangun kebersamaan, bukan justru mencari alasan untuk mempertahankan perpecahan.

Menurutnya, dinamika organisasi KNPI di tingkat nasional merupakan realitas yang tidak dapat diabaikan. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya dijadikan alasan untuk memecah belah pemuda di tingkat daerah, khususnya di Kota Tanjungbalai.

“Kita tidak menutup mata bahwa secara nasional KNPI masih menghadapi dinamika dan terdapat perbedaan kepengurusan di tingkat pusat. Itu fakta. Tetapi, fakta tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk memecah belah pemuda di daerah,” tegas Ade dalam statement-nya memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026.

Ade menjelaskan, persatuan yang dibangun di Tanjungbalai bukan berarti struktur KNPI di tingkat pusat secara otomatis telah menyatu. Menurutnya, yang menjadi dasar kebersamaan di daerah adalah kesadaran dan kehendak organisasi-organisasi kepemudaan untuk berhimpun dalam satu rumah bersama.

“Yang bersatu bukan berarti struktur KNPI di tingkat pusat tiba-tiba sudah menyatu. Yang bersatu adalah para OKP sebagai pemegang saham KNPI, yang memiliki kesadaran dan kehendak organisasi untuk berhimpun dalam satu rumah bersama. Ini adalah pilihan pemuda Tanjungbalai,” ujarnya.

Ia menilai, pilihan untuk berhimpun tersebut merupakan langkah untuk mengakhiri ego kelompok, meninggalkan sekat-sekat lama, serta mengutamakan kebersamaan pemuda daripada kepentingan kelompok maupun ambisi pribadi.

Karena itu, Ade mengingatkan agar perbedaan KNPI di tingkat pusat tidak terus dibawa ke daerah dan dijadikan alasan untuk mempertahankan perpecahan di kalangan pemuda Tanjungbalai.

“Kalau ada pihak yang terus membawa-bawa perbedaan KNPI di tingkat pusat untuk kemudian dipaksakan menjadi perbedaan di Tanjungbalai, kita perlu melihat persoalannya secara jernih. Jangan sampai persoalan yang terjadi di tingkat pusat dijadikan komoditas untuk mempertahankan perpecahan pemuda di daerah,” tegasnya.

Baca Juga :  Free OnlyFans Unlock Guide: How It Works, Benefits, Risks & Safe Setup

Menurut Ade, apabila OKP-OKP di Tanjungbalai telah memilih untuk berhimpun dalam satu KNPI, maka pilihan tersebut patut dihormati. Perbedaan pendapat, kata dia, merupakan hal yang wajar dalam kehidupan organisasi, tetapi tidak semestinya berkembang menjadi upaya yang justru mengembalikan pemuda pada perpecahan.

“Kalau hari ini OKP-OKP di Tanjungbalai sudah memilih untuk berhimpun dalam satu KNPI, maka seharusnya pilihan itu dihormati. Kalau ada yang tidak setuju, silakan berbeda pendapat. Tetapi, jangan kemudian membangun narasi seolah-olah pemuda Tanjungbalai harus kembali terbelah hanya karena persoalan yang terjadi di tingkat pusat,” katanya.

Ade menegaskan, semangat Hari Sumpah Pemuda harus menjadi pengingat bahwa persatuan tidak cukup hanya diucapkan, tetapi juga harus diwujudkan melalui sikap dan tindakan nyata.

“Bagi saya, membawa-bawa perpecahan pusat untuk memecah pemuda Tanjungbalai bukanlah semangat Sumpah Pemuda. Kita harus berani membedakan antara realitas organisasi di tingkat nasional dengan kebutuhan pemuda di tingkat daerah,” lanjutnya.

Ia berpandangan, Kota Tanjungbalai tidak membutuhkan dua atau tiga rumah pemuda yang saling berhadap-hadapan. Sebaliknya, Tanjungbalai membutuhkan satu rumah besar yang dapat menjadi ruang bersama bagi seluruh OKP untuk berdiskusi, menyampaikan perbedaan pandangan, membangun komunikasi, dan mencari solusi demi kepentingan pemuda serta kemajuan daerah.

“KNPI bukan milik satu orang, bukan milik satu kelompok, dan bukan milik satu OKP. KNPI adalah rumah bersama OKP. Karena itu, jangan jadikan KNPI sebagai arena untuk mempertahankan ego dan kepentingan kelompok,” tegas Ade.

Ia juga mengajak seluruh elemen pemuda untuk menghentikan pewarisan konflik antarkelompok dan mulai membangun tradisi kebersamaan yang lebih produktif. Menurutnya, energi pemuda seharusnya diarahkan untuk melahirkan gagasan, kegiatan, dan kontribusi nyata bagi masyarakat, bukan dihabiskan untuk mempertahankan perbedaan yang berujung pada perpecahan.

“Mari kita berhenti mewariskan konflik. Generasi muda Tanjungbalai tidak membutuhkan warisan perpecahan. Mereka membutuhkan masa depan,” ungkapnya.

Ade kemudian mengingatkan kembali sejarah perjuangan pemuda Indonesia pada 28 Oktober 1928. Saat itu, para pemuda dari berbagai latar belakang memilih untuk mengikrarkan persatuan demi cita-cita yang lebih besar, yakni Indonesia yang satu.

Menurutnya, semangat tersebut harus menjadi inspirasi bagi pemuda Tanjungbalai dalam menyikapi perbedaan dan membangun masa depan daerah.

Baca Juga :  Perkuat Koordinasi dan Kebersamaan, Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Simalungun Gelar Rapat Koordinasi

“Pada 28 Oktober 1928, para pemuda tidak bertanya siapa yang paling berhak menjadi pemimpin sebelum mengikrarkan Sumpah Pemuda. Mereka memilih bersatu karena sadar bahwa cita-cita besar tidak mungkin dicapai dengan berjalan sendiri-sendiri,” katanya.

Ia pun melontarkan pertanyaan reflektif kepada seluruh pemuda agar tidak terjebak dalam ego kelompok dan melupakan tanggung jawab bersama terhadap kota yang mereka cintai.

“Kalau pemuda 1928 mampu mengalahkan ego kelompok demi Indonesia, masa pemuda Tanjungbalai hari ini tidak mampu mengalahkan ego kelompok demi Tanjungbalai?” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ade mengajak seluruh OKP dan pemuda Tanjungbalai untuk terus menjaga kebersamaan yang telah dibangun serta menjadikan KNPI sebagai rumah yang terbuka bagi seluruh organisasi kepemudaan tanpa menjadikannya ruang eksklusif bagi kelompok tertentu.

“Saya mengajak seluruh OKP dan pemuda Tanjungbalai untuk menjaga kebersamaan yang sudah kita bangun. Mari kita jadikan KNPI sebagai rumah yang terbuka, bukan rumah yang eksklusif,” ajaknya.

Ia menegaskan, perbedaan pandangan dan kompetisi dalam organisasi merupakan bagian dari dinamika yang tidak perlu dihindari. Namun, seluruh dinamika tersebut harus tetap berada dalam koridor persaudaraan dan kepentingan bersama.

“Berbeda boleh. Berdebat boleh. Berkompetisi boleh. Tetapi, memecah persaudaraan pemuda Tanjungbalai jangan,” tegasnya.

Ade menambahkan, pada akhirnya sejarah tidak akan hanya mencatat siapa yang paling keras mengklaim organisasi, tetapi juga akan melihat sejauh mana pemuda mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat dan pembangunan daerah.

“Sebab pada akhirnya, yang kita pertanggungjawabkan bukan siapa yang paling keras mengklaim organisasi. Yang akan ditanya oleh sejarah adalah: apa yang kita lakukan untuk pemuda dan kota ini?” tuturnya.

Menutup statement-nya dalam momentum Hari Sumpah Pemuda 2026, Ade kembali menyerukan pentingnya menjaga persatuan dan menjadikan kebersamaan sebagai modal utama dalam membangun Kota Tanjungbalai.

“Selamat Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober. Satu pemuda Tanjungbalai, satu kebersamaan, satu semangat untuk membangun Tanjungbalai. Jangan bawa perpecahan pusat ke Tanjungbalai. Mari kita rawat persatuan pemuda Tanjungbalai,” Pesan Ade Fahriza (RBB)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Komentar