LINTAS SUMUT | TANJUNGBALAI
Hanif 43 tahun, salah seorang Peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) mandiri sangat kecewa atas pelayanan di Puskesmas Umar Damanik kota Tanjungbalai. Berharap dengan kepesertaan nya di BPJS akan mendapat kan pelayanan kesehatan yang maksimal saat berobat, tetapi hal itu sangat berbanding terbalik saat dia mebawa istrinya Baiti 40 tahun, berobat di puskesmas tersebut pada hari kamis 8/4.
Saat menerima obat dari petugas Farmasi yang ada di Puskesmas tersebut, obat yang dia terima tidak sesuai dengan resep yang diberikan oleh dokter. Tiga jenis obat yang tertera di resep, hanya dua obat yang diberikan kepada. Saat Baiti bertanya obat tetes telinga, petugas Farmasi yang tidak memakai Bad nama mengatakan persediaan obat dipuskesmas habis dan meminta pasien untuk membeli sendiri di tempat lain.
Hanif mengatakan kepada awak media sangat kecewa dengan pelayanan Puskesmas Umar Damanik. Dia menambahkan peserta BPJS seharusnya nya menerima hak nya saat berobat. Dan kehabisan persediaan obat bukan tanggungjawab pasien tetapi tanggungjawab Puskesmas.
“Keluarga saya peserta BPJS mandiri. 150.000 perbulan nya dikali jumlah anggota keluarga kami membayar . Kami membayar sebelum kami sakit. Tetapi, saat kami berobat kami masih di bebankan untuk membeli obat. Dan memakai uang sendiri dengan alasan mereka kehabisan persediaan obat Jadi buat apa kami membayar setiap bulan nya kalau kami masih membeli obat sendiri?” sesal nya.
Wartawan mengkonfirmasi hal ini langsung kepada Kepala Puskesmas Umar Damanik dr Yenni melia Susanty. Dr Yenni mengatakan memang benar kalau Puskesmas kehabisan persediaan obat dan belum sempat belanja obat obatan. Dan diri nya tidak ada menginstruksikan kepada bawahan nya agar pasien membeli obat sendiri dengan uang sendiri.
“ Saya meminta Maaf, ini kelalaian kami. Saya tahu kalau obat tetes telinga sudah habis dan dana BPJS sudah ada.Hanya Kami belum sempat berbelanja obat obatan. Dan pihak kami akan segera membeli persediaan obat” kata nya
Ditempat terpisah, awak media meminta tanggapan dari Ketua GARI-SU (Generasi Aktifis Reformasi Indonesia – Sumatera Utara) Rudy Bakti, atas permasalahan ini mengatakan, diri nya mencium ada nya dugaan kecurangan oknum di Puskesmas Umar Damanik. Dia mengatakan biaya berobat peserta BPJS mandiri telah dibayar oleh peserta sebelum sakit. Dan kepala Puskesmas harus berperan aktif dalam persediaan obat obatan. Diri nya juga berjanji akan menindaklanjuti hal ini, dan melakukan investigasi mengapa dana dari BPJS sudah ada tetapi persediaan obat tidak ada. Dan bila perlu GARI- SU akan mendesak Dinas Kesehatan mencopot jabatan Kepala Puskesmas.
“tidak ada alasan apapun kepada peserta BPJS untuk mendapatkan hak nya. Kinerja Kepala puskesmas Umar damanik sangat buruk. Dan petugas farmasi harus di evaluasi. Kami mencium adanya dugaan kecurangan dari petugas farmasi puskesmas Umar Damanik. Dengan memintaa pasien membeli obat sendiri, tetapi petugas tidak mencoret nama obat yang tidak ada dari resep dokter, jelas menimbulkan kecurigaan. Dan saya Bila perlu saya akan mendesak pihak yang berkopeten untuk menyelidiki hal ini.”pungkas nya.







Komentar