LINTAS SUMUT.COM, TAPTENG| Pasca bencana banjir dan longsor yang menimpa wilayah Tapanuli Tengah (Tapteng) terus bertambah. Hingga Rabu (5/11/25), tercatat 86 orang meninggal dunia, sementara RSUD Pandan menerima 14 jenazah, terdiri dari 11 teridentifikasi dan 3 belum teridentifikasi.
Kepala Dinas Kesehatan Tapteng, Lisnawati Panjaitan, didampingi Direktur RS Pandan dr. Fadli, menyampaikan bahwa proses identifikasi korban terus dilakukan.
“Total 14 jenazah diterima RSUD Pandan, 11 sudah teridentifikasi dan 3 belum diketahui identitasnya,” ujar Lisnawati.
Daftar Korban yang Teridentifikasi:
1. Robenta Sigalingging – warga Sibiluan
2. Radiv Pradipta Halawa – warga Sibuluan
3. Rahmad Riyadi Sitompul – warga Hajoran Induk
4. Hardy Sitompul – warga Hajoran Induk
5. Ibnu Fazar Damanik – warga Perum Infah Permai
6. Hendra Gunawan Siregar – warga Batangtoru
7. Serliana Siahaan – warga Parombunan
8. Agus Tonny Sinaga – warga Jalan Baru
9. Meriati Pohan – warga Pandan
10. Hotmartua Tampubolon – warga Hajoran Km 14
11. Parulian Sinaga – warga Hajoran
Sementara dua korban asal Hutanabolon dan satu korban asal Tukka belum dapat dikenali karena minimnya identitas. Tim medis bersama kepolisian melakukan pencocokan sidik jari dan meminta masyarakat yang kehilangan keluarga datang ke RSUD Pandan.
Seluruh jenazah yang diterima sudah dimakamkan sesuai prosedur penanganan bencana. 3.700 Pasien Ditangani Dua Puskesmas Rusak Berat
Lisnawati menjelaskan, meski dua Puskesmas terdampak banjir dan mengalami kerusakan sarpras serta alat medis, pelayanan kesehatan tetap berjalan maksimal.
Sejak hari kedua bencana, telah didirikan 56 Posko Pelayanan Kesehatan (Yankes) di seluruh wilayah terdampak. Hingga hari ke-8, posko-posko tersebut telah menangani sekitar 3.700 pasien.
Keluhan kesehatan terbanyak:
ISPA
Hipertensi
Demam/Obs. Febris
Myalgia
Dermatitis
Luka ringan & sedang
Diare
Di RSUD Pandan, terdapat, 28 pasien rawat inap
87 pasien rawat jalan dan RS Lapangan Ditambah. Mulai Kamis (4/12/25), tenaga medis dari Universitas Sumatera Utara (USU) dan Kesehatan Kodam mendirikan RS Lapangan di empat kecamatan terdampak berat. Yaitu di, kecamatan Tukka, Badiri, Sorkam dan Barus
Adapun total tenaga medis bertugas, terdiri dari
TNI AD: 5 orang (1 dokter, 4 perawat)
TNI AU: 2 orang (dokter spesialis paru & jiwa)
Polri: 5 orang (1 dokter, 4 perawat)
Dinas Kesehatan Tapteng/Puskesmas: 224 orang.
Dinas Kesehatan Provinsi: 5 orang (2 dokter, 3 perawat)
Relawan Mersi: 7 orang (4 dokter, 3 perawat)
“Tujuannya mempercepat penanganan medis di wilayah yang aksesnya masih terputus,” ujar Lisna.
Banjir bandang Tapteng menjadi salah satu bencana terbesar dalam sejarah daerah tersebut. Pemerintah daerah bersama TNI-Polri, relawan, dan tenaga kesehatan terus melakukan pemulihan dan memastikan korban mendapat pelayanan optimal. (ded)










Komentar