oleh

Tradisi Martonggo di Lobu Tua: Harapan Leluhur Menjaga Tapanuli Tengah dari Bencana

LINTASSUMUT.COM, TAPTENG | Ketua Guru Tatea Bulan dan rombongan kunjungi sopo parsaktian oppu Raja Uti di desa lobu tua kecamatan Andam dewi. Sabtu (21/02/2026)

Tengah kekhawatiran akan potensi bencana alam yang masih membayangi wilayah Tapanuli Tengah, sekomunitas masyarakat yang tergabung dalam Guru Tatea Bulan (GTB) Sibolga-Tapteng menggelar ritual martonggo (berdoa) dengan adat penuh makna di Desa Lobu Tua, Kecamatan Andam Dewi, Sabtu (21/02/2026). Kemarin

Dipimpin langsung oleh Ketua GTB, Sabar Barita Pasaribu, prosesi martonggo (doa permohonan) dilaksanakan secara khidmat di Sopo Tugu Oppu Raja Uti.

“Ritual ini merupakan bagian dari tradisi spiritual Batak Malim yang diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk komunikasi kepada Sang Pencipta melalui perantaraan leluhur.” Ujar Sabar kepada lintassumut.com kediamannya. Selasa (07/04/2026)

Dengan membawa demban tiar (napuran/daun siri) sebagai simbol kesucian dan penghormatan, Sabar Barita Pasaribu memulai doa di hadapan Tugu Oppu Raja Uti. Dalam keyakinan mereka, Oppu Raja Uti adalah Oppu Raja Malim, anak ni oppu guru Tatea Bulan, sosok leluhur suci yang dikenal memiliki hati bersih dan kedekatan spiritual dengan Tuhan.

Baca Juga :  Jaksa Diduga main Mata Teriakan Tahan S4nju Kasus Pengelapan Pajak Perusahaan Didepan Kejaksaan Negeri Kota Pematangsiantar

Suasana semakin sakral ketika dalam prosesi tersebut, Ketua GTB tampak mengalami “sorop”, yakni kondisi spiritual ketika roh leluhur diyakini hadir dan menyatu dalam diri seseorang. Dalam keadaan itu, ia melantunkan doa dengan bahasa Batak Toba yang pekat, seolah menjadi perantara langsung antara dunia manusia dan leluhur.

Salah satu pengurus GTB, Hanafi Lubis, menjelaskan bahwa ritual ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga bentuk ikhtiar spiritual masyarakat dalam menghadapi situasi yang dianggap mengkhawatirkan.

“Ini adalah bentuk permohonan kami kepada leluhur anak Raja Batak agar turut mendoakan kepada Tuhan, supaya segala bentuk bencana dijauhkan dari Tapanuli Tengah. Kami mendengar adanya prediksi gempa besar, sehingga kami merasa perlu melakukan martonggo ini,” ungkapnya.

Menurut kepercayaan yang berkembang di kalangan mereka, Oppu Raja Uti memiliki kisah kelahiran yang unik. Ia diyakini lahir dalam kondisi tidak sempurna, bahkan disebut sebagai kembar siam dengan saudara perempuannya. Namun, berkat kuasa Tuhan, ia kemudian “disempurnakan” melalui tujuh tahapan atau “tujuh tompa”, hingga menjadi sosok yang utuh secara spiritual.

Baca Juga :  Kapal Ikan Pukat Teri Terbakar Di Laut Belawan, Tiga Nelayan Meninggal Dunia

Kesucian hati dan ketulusan Oppu Raja Uti sebagai Oppu Raja Malim, anak ni Raja oppu tatea bulan cucu dari si raja Batak, inilah yang membuatnya dihormati sebagai perantara doa kepada Tuhan. Oleh karena itu, melalui ritual martonggo, masyarakat berharap doa mereka dapat tersampaikan dan dikabulkan, terutama untuk memohon keselamatan dari ancaman bencana alam.

Ritual yang berlangsung dengan tertib dan penuh kekhusyukan ini menjadi cerminan kuatnya nilai-nilai kearifan lokal yang masih dijaga oleh sebagian masyarakat Tapanuli Tengah. Di tengah perkembangan zaman, tradisi seperti ini tetap hidup sebagai bentuk identitas budaya sekaligus sarana spiritual dalam menghadapi ketidakpastian alam.

Bagi mereka, doa bukan hanya dipanjatkan secara personal, tetapi juga melalui jejak leluhur yang diyakini tetap hadir dan menjaga keturunan mereka.(ded)

Happy
Happy
50 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
50 %

Komentar