Lintassumut.com, Tapteng | Di bawah terik matahari Alun-alun Pandan, sepasang orang tua berdiri dengan mata yang sembab. Di tangan mereka tergenggam selembar kertas berisi kolom tanda tangan. Bukan untuk sebuah kampanye, melainkan secercah harapan agar kematian anak mereka, Boy Simamora, diusut hingga tuntas.
Didampingi Forum Masyarakat (Formas), keluarga Boy menggelar aksi Gerakan 1.000 Tanda Tangan, Rabu (8/7/2026). Satu per satu warga menghampiri, mendengarkan kisah pilu keluarga, lalu membubuhkan tanda tangan sebagai bentuk dukungan.
Tangis sang ibu pecah saat menyampaikan permohonannya kepada masyarakat.
“Bapak, ibu… lihatlah kami. Bantulah kami dengan memberikan dukungan tanda tangan agar kematian anak kami diusut tuntas. Kami orang kecil, kami tidak mengerti hukum. Biarlah Tuhan yang membalas semua kebaikan bapak dan ibu yang membantu kami,” ucapnya dengan suara bergetar.
Dalam bahasa Batak, ia kembali memohon agar masyarakat tidak meninggalkan perjuangan keluarganya mencari keadilan.
Di sampingnya, ayah Boy Simamora berusaha tegar. Namun nada suaranya tak mampu menyembunyikan luka yang telah berbulan-bulan dipendam.
Ia mengaku keluarga masih menyimpan banyak pertanyaan mengenai kondisi jenazah anaknya. Menurutnya, terdapat sejumlah hal yang dinilai janggal sehingga keluarga berharap penyelidikan dilakukan secara menyeluruh.
“Kami memohon kepada Bapak Kapolres Tapanuli Tengah agar mengusut tuntas kematian anak kami. Sudah lama kami menunggu. Kami melihat ada kejanggalan pada tubuh anak kami. Karena itu kami berharap semuanya dapat dibuktikan melalui penyelidikan dan hasil forensik,” ujarnya.
Ayah korban, Saudara Lamsehat Simamora (46) juga mengaku hingga kini belum menerima hasil resmi autopsi yang dilakukan terhadap jenazah Boy Simamora.
“Kami hanya ingin mengetahui kebenarannya. Apakah benar penyebab kematian anak kami seperti yang selama ini disampaikan, atau ada penyebab lain. Kami hanya ingin kepastian agar hati kami tenang,” kata sang ayah.
Bagi keluarga Boy Simamora, gerakan 1.000 tanda tangan bukan sekadar mengumpulkan nama di atas kertas. Setiap tanda tangan menjadi simbol harapan agar kasus yang mereka yakini masih menyisakan tanda tanya dapat memperoleh kepastian hukum.
Kini mereka hanya berharap hasil autopsi segera disampaikan dan penyelidikan dilakukan secara transparan, sehingga penyebab kematian Boy Simamora dapat terungkap secara jelas berdasarkan fakta dan proses hukum yang berlaku.
Lamsehat bersama kerabat lainnya melanjutkan perjalanan ke Mapolres Tapanuli Tengah menyerahkan beberapa helai kain yang berisikan tanda tangan sebagai bentuk dukungan kepada Kapolres Tapteng dalam mengusut kasus ini.(ded)







Komentar