Lintassumut.com, TAPANULI SELATAN |
Dari Sopo Godang ke Panggung Dunia, Enam Penari Muda Binaan PTAR Harumkan Tapsel di panggung internasional di Turki, enam penari muda Sanggar Seni Sopo Daganak (Sanipoda) binaan PT Agincourt Resources (PTAR) berbagi pengalaman bersama awak media Sibolga-Tapanuli Tengah, Sabtu (7/11/2026).
Dalam pertemuan yang berlangsung di Bagas Silua binaan PTAR tersebut, para penari tampak antusias menceritakan perjalanan mereka, mulai dari awal mengenal seni tari, menjalani latihan rutin hingga mendapat kesempatan tampil dalam festival budaya internasional di Istanbul dan Kuşadasi, Turki, pada Oktober 2026.
Bagi mereka, kesempatan tersebut menjadi pengalaman berharga sekaligus kebanggaan karena dapat membawa nama Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) dan Indonesia ke panggung dunia.
Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari proses pembinaan dan dukungan PTAR, termasuk dukungan pembiayaan serta fasilitas latihan di Sopo Godang. Selain itu, dukungan orang tua, pelatih, dan pembimbing juga menjadi bagian penting dalam perjalanan para penari muda tersebut.
Salah seorang penari, Nadiva Pulungan, siswi kelas X SMA di Batang Toru, mengaku tidak pernah menyangka perjalanan awalnya mengikuti latihan tari dapat membawanya tampil di luar negeri.
Nadiva mengatakan, awalnya ia mengikuti latihan di Sanipoda hanya untuk bersenang-senang setelah diajak temannya. Namun, seiring waktu, ia mulai menyukai seni tari dan semakin serius berlatih.
“Awalnya kakak-abang saya itu grogi, padahal cuma mau ikut main-main gitu saja. Tapi karena ada teman saya yang ngajak ke Sopo Daganak ikut latihan nari, lama-kelamaan saya jadi suka dan serius. Ditambah pelatih saya juga orangnya mudah memberikan pelajaran, jadi saya cepat menangkap,” katanya.
Menurut Nadiva, tampil di Turki menjadi pengalaman paling berharga yang pernah dirasakannya. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada PTAR yang terus memberikan perhatian kepada anak-anak muda di sekitar wilayah tambang emas.
“Saya juga berdoa semoga di event-event selanjutnya bisa memberikan penampilan yang terbaik buat Indonesia, terkhusus untuk Tapanuli Selatan, Sumatera Utara,” tambahnya.
Pengalaman serupa juga dirasakan Saidina, yang telah menamatkan pendidikan SMA dan kini tengah mempersiapkan diri melanjutkan kuliah dengan mengambil jurusan seni tari.
Saidina mengaku awalnya merasa malu, takut, dan kaku saat mengikuti latihan. Namun, melalui latihan rutin, ia perlahan mampu mengikuti setiap gerakan hingga akhirnya percaya diri tampil di panggung internasional.
“Awalnya aduh, saya itu kaku orangnya, Bang. Tapi karena sering latihan, Alhamdulillah perlahan bisa saya ikuti. Apalagi sampai tampil ke luar negeri sana, serasa menjadi artis,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pelatih dan PTAR yang terus mendukung pembinaan seni bagi generasi muda di sekitar wilayah tambang.
Latihan Rutin Setiap Minggu
Dalam proses pembinaan, kegiatan latihan Sanipoda dilaksanakan secara rutin setiap hari Minggu pukul 15.00 hingga 17.00 WIB di Sopo Godang. Jadwal tersebut menyesuaikan aktivitas para anggota yang sebagian besar masih berstatus pelajar SMA dan memiliki waktu luang pada akhir pekan.
Selain mempersiapkan penampilan untuk berbagai kegiatan, latihan juga dilakukan untuk menyambut acara peringatan Hari Ibu.
Para pembimbing menyebutkan, dukungan utama bagi anak-anak berasal dari orang tua yang terus mendorong mereka agar lebih percaya diri dan berani mengembangkan kemampuan. Dukungan juga diberikan para pelatih serta pembimbing.
Dalam perjalanan mengikuti berbagai perlombaan, pihak sanggar juga pernah melakukan audiensi kepada Bupati Tapanuli Selatan, Dinas Pariwisata, Dinas Pendidikan, serta sejumlah instansi lainnya untuk memperkenalkan kegiatan dan prestasi sanggar.
Dukungan juga pernah diberikan Ketua TP PKK Tapanuli Selatan berupa bantuan Rp500.000 untuk membantu biaya voting dalam kategori peserta terfavorit pada salah satu festival.
Pengalaman tampil di luar negeri juga memberikan tantangan tersendiri bagi para penari, terutama terkait komunikasi menggunakan bahasa Inggris. Mereka mengakui masih mengalami kesulitan memahami percakapan selama berada di Turki.
Karena itu, peningkatan kemampuan bahasa Inggris menjadi salah satu perhatian untuk mempersiapkan para penari apabila kembali mendapat kesempatan tampil di panggung internasional.
Selain itu, para penari juga menghadapi tantangan mempelajari tarian Indonesia Menari yang memadukan gerakan dari berbagai daerah di Nusantara. Proses latihan dilakukan secara daring melalui Zoom karena peserta berada di lokasi berbeda, yakni dua orang di Batam dan tiga orang di Medan.
Dalam perjalanan festival di Turki, mereka juga sempat menghadapi kendala cuaca. Hujan deras di lokasi menyebabkan salah satu agenda penampilan yang dijadwalkan pada tanggal 27 dibatalkan panitia.
Sanipoda Berdiri Sejak 2012
Pendamping Sanipoda, Destri, menjelaskan sanggar tersebut berdiri sejak 2012 dengan 12 penari. Sejak 2014, Sanipoda rutin menggelar pentas seni anak. Hingga 2026, tercatat sekitar 600 anak telah bergabung dalam sanggar tersebut.
“Sanipoda dibentuk untuk membangun karakter, kepercayaan diri, disiplin, serta kemampuan komunikasi anak melalui seni tari. Sebelum tampil di Turki, Sanipoda telah mengikuti berbagai festival daerah dan nasional, termasuk meraih juara II Festival Warisan Nusantara di Jakarta,” katanya.
Destri menyebutkan, keberangkatan enam penari Sanipoda ke Turki mendapat dukungan PTAR setelah sempat tertunda akibat konflik internasional dan efisiensi anggaran.
Menurutnya, kesempatan tampil di dua festival budaya internasional tersebut menjadi pencapaian luar biasa bagi Sanipoda sekaligus membuka ruang bagi anak-anak untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia.
Pembinaan Seni Sejak Dini
Sementara itu, Sudarsono, pelatih Sanipoda yang mulai membina sanggar sejak 2014, mengatakan pembinaan seni tari anak-anak di Batang Toru telah dimulai sejak 2012.
Ia mengungkapkan, awalnya dirinya melatih sekitar 50 anak secara mandiri. Seiring waktu, jumlah peserta terus bertambah hingga mencapai 150 anak.
Menurut Sudarsono, Sanipoda tidak hanya menjadi wadah untuk mencetak penari profesional, tetapi juga ruang pendidikan dini dalam mengenalkan budaya Tapanuli Selatan dan budaya nasional kepada generasi muda.
“Awalnya saya melatih anak-anak yang belum mengenal gerakan tari. Perlahan, melalui pembinaan dan pengalaman, mereka berkembang. Saya bersyukur kini banyak anak binaan yang melanjutkan pendidikan di bidang seni tari,” ucapnya.
Ia berharap pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya memiliki kemampuan seni, tetapi juga karakter, disiplin, dan kecintaan terhadap budaya daerah.
Prestasi yang diraih Sanipoda di Turki diharapkan menjadi motivasi bagi generasi muda lainnya agar tidak ragu mengembangkan bakat dan melestarikan seni budaya daerah.
Para penari juga berpesan agar anak-anak muda tidak mudah menyerah atau terpengaruh perkataan negatif orang lain. Dengan kemauan belajar, latihan yang konsisten, serta dukungan berbagai pihak, generasi muda daerah juga memiliki kesempatan untuk tampil dan berprestasi di tingkat internasional. (ded)






Komentar