LINTASSUMUT.COM, TAPTENG | Kasus dugaan persekusi terhadap siswa SMAN 1 Matauli Pandan bernama Sony Michael viral di media sosial. Ayah korban, Ericson Maharaja, mengungkapkan lewat akun Facebook pribadinya bahwa anaknya menjadi korban pengeroyokan geng sekolah hingga mengalami luka serius, Rabu (13/8/2025).
Akibat kejadian itu, korban menderita gigi patah, pembuluh darah mata pecah, tulang rawan telinga koyak, serta pembengkakan di wajah dan kepala.
Dalam unggahannya, Ericson yang juga Ketua terpilih DPC GAMKI Tapanuli Tengah meluapkan kekecewaannya kepada pihak sekolah maupun kepolisian. Ia menegaskan akan mengejar para pelaku jika kasus ini tidak ditangani serius.
“Kalau SMAN 1 Matauli Pandan dan Polres Tapteng tidak serius menangani ini, ke lubang tikus pun kalian pelaku bersembunyi akan saya kejar. Hukum rimba pun akan menjadi pilihan. Gigi ganti gigi, mata ganti mata, telinga ganti telinga, darah ganti darah,” tulisnya.
Ericson menjelaskan kepada awak media bahwa pengeroyokan terjadi ketika anaknya sedang beristirahat di ruang kelas. Tiba-tiba korban dipukul keras di bagian belakang kepala lalu diseret ke toilet sekolah oleh sejumlah siswa yang diduga anggota geng.
Di toilet, korban dipaksa duduk, diinterogasi, lalu dipukuli bertubi-tubi di dada dan kepala. Aksi sempat terhenti saat seorang guru datang, namun korban kemudian kembali dipaksa berkelahi satu lawan satu dengan ketua geng di hadapan puluhan siswa.
“Anak saya dipukul berkali-kali di wajah, mulut, telinga, dan kepala. Seharusnya generasi muda diisi prestasi membanggakan, bukan menjadi korban kekerasan geng sekolah,” ujar Ericson saat awak media Lintassumut.com melangsir berita kliktodaynews.com.
Ia menyesalkan pihak sekolah yang dinilai kurang tanggap terhadap keberadaan geng di lingkungan SMAN 1 Matauli Pandan. Ericson juga menegaskan sudah membuat laporan resmi ke Polres Tapanuli Tengah.
“Saya menyekolahkan anak ke SMA Matauli milik Ir. Akbar Tandjung bukan untuk dianiaya atau cacat permanen, melainkan agar mendapat pendidikan lebih baik. Saya meminta keadilan ditegakkan supaya tidak ada lagi Sony-Sony berikutnya,” tegasnya.
Awalnya, korban sempat mengaku kepada orang tua bahwa luka-lukanya disebabkan jatuh di tangga kolam renang. Namun saat diperiksa di RS Meta Medika Sibolga, darah segar masih keluar dari mata, telinga, dan mulut. Kondisi itu membuat keluarga curiga hingga korban akhirnya dirujuk ke RS Siloam Medan untuk menjalani operasi.
Sementara Kepala Sekolah SMAN 1 Matauli Pandan, Deden Rachmawan, saat dikonfirmasi wartawan Lintassumut.com pada Rabu (13/08/2025) tidak memberikan tanggapan meski sudah dihubungi melalui telepon dan pesan WhatsApp.(ded)













Komentar